Cara Mengukur Suhu Makanan Yang Benar

Makanan merupakan salah satu komponen terpenting dalam kehidupan. Tentunya karena kandungan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh ada didalamnya sehingga dengan makanan segala bentuk kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.

Namun rupanya, masalah kualitas bahan makanan pun menjadi penentu apakah masih dikatakan layak untuk dikonsumsi atau tidak. Hal ini sangat berhubungan dengan kandungan gizi pada suatu bahan pangan setelah melalui berbagai proses pengolahan, termasuk pada pen-sortir-an, penyimpanan dan pada saat pematangan.

Maka dari itu cukup penting juga untuk menjaga temperatur pangan pada standarnya agar dapat mempertahankan kualitas gizi yang terkandung. Menjaga dan mengatur temperatur bahan dapat dilakukan dengan cara mengukur suhu makanan dan memantau selama proses pengolahan ataupun penyimpanan.

Jika sebelumnya mungkin istilah termometer hanya identik dengan pengukur temperatur tubuh, ternyata adapula termometer mengukur temperatur pangan. Akan tetapi tidak sedikit yang masih belum paham bagaimana mengukur suhu yang baik dan benar.

 

Macam Thermometer Masak

Sebagaimana termometer pada umumnya, termometer masak pun memiliki beberapa jenis dengan kegunaan dan cara pakai masing-masing. Berikut adalah jenis-jenis termometer masak.

  • Termometer Tusuk

Termometer tusuk merupakan pengukur temperatur pangan yang memiliki bentuk seperti obeng, dengan jarum panjang yang terbuat dari stainless. Sebagaimana namanya, penggunaan termometer masak yang satu ini pun dengan menusukkan bagian ujung termometer pada bagian beberapa jenis pangan seperti daging atau roti.

Bagian ujung stainless memang sengaja dibuat tajam. Hal ini bertujuan agar alat pengukur temperatur pangan menjadi lebih mudah ditusukkan dan menancap pada pangan yang hendak diukur temperaturnya.

Lebih detailnya, cara mengukur suhu makanan menggunakan termometer ini adalah menekan tombol on/off yang ada pada bagian termometer. Terdapat dua macam dari termometer tusuk, yaitu versi digital, dimana akan secara otomatis menunjukkan angka versi digital, kemudian akan secara otomatis pula mati apabila tidak digunakan lebih dari 15 menit. Kemudian terdapat pula termometer masak manual yang pada alatnya memiliki indikator skala penunjuk manual.

  • Termometer Celup

Apabila dilihat sekilas dari bentuknya, tampilannya memang mirip dengan model tusuk. Hanya saja, jika model tusuk diperuntukkan bagi bahan pangan padat,  maka termometer celup ini digunakan khusus untuk mengecek temperatur air yang akan digunakan untuk masakan seperti air panas, sup, dan penganan lainnya yang berbentuk cairan.

Cara mengukur suhu makanan menggunakannya terbilang mudah. Anda hanya perlu mencelupkannya ke dalam air, kemudian tunggu beberapa saat hingga suhu air pun muncul pada layar. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah hindari mencelupkan terlalu dalam apalagi sampai ke dasar panci,  hal tersebut hanya akan membuat hitungan temperatur menjadi tidak akurat atau terlalu panas. Seperti hal nya termo tusuk, termo celup ini pun memiliki versi manual dengan indikator skala penunjuk yang manual juga.

  • Termometer Tembak

Dari namanya saja sudah pasti termometer yang satu ini memiliki bentuk yang mirip dengan pistol. Dengan cara menekan tombol yang ada, termometer ditembakkan ke objek pangan dengan laser inframerah yang akan keluar dari termometer tersebut, kemudian temperatur pun akan langsung tertera pada layar indikator.

Walaupun cara penggunaan yang demikian, tidak dianjurkan menggunakan termometer tembak langsung pada masakan yang berada diatas kompor, ataupun yang berada pada posisi ditengah pusat api. Hal ini hanya akan menyebabkan temperatur pangan yang terdeksi akan terlalu tinggi dan tentunya menjadi tidak akurat.

Kepraktisan yang ditawarkan menjadi salah satu keunggulan tersendiri. Karena Anda tidak perlu repot-repot harus menyentuh langsung masakan untuk mengetahui apakah temperatur pangan dalam keadaan baik atau tidak. Selain itu, termometer ini pun serbaguna karena dapat digunakan pada semua jenis dan bentuk pangan sehingga sangat praktis

 

Mengapa perlu mengukur temperatur masakan dan bahan pangan?

Salah satu pemicu datangnya penyakit adalah dari makanan yang terkontaminasi bakteri. Karena bakteri dapat berkembang biak pada pangan dalam temperatur tertentu, maka sangat diperlukan untuk tetap menjaga kualitas bahan agar tidak memicu perkembangbiakan bakteri pada bahan pangan.

Kualitas bahan pangan yang rusak akibat proses pengelolaan bahan pangan yang tidak terkontrol, tentunya menjadi tidak layak untuk dikonsumsi. Itulah sangat dianjurkan untuk memantau dan mengontrol temperatur sebagai salah satu upaya mempertahankan kualitas, utamanya pada saat penyimpanan dan dengan cara mengukur yang tepat.

Jika temperatur dibiarkan seenaknya dan berada pada temperatur yang tidak sesuai untuk suatu bahan pangan, maka bakteri akan dengan cepat berkembang dan akan mempercepat pula terjadinya pembusukan, mudah basi, pangan berjamur dan lain sebagainya.

Begitu pun dengan saat pengolahan, apabila bahan pangan diolah pada temperatur yang pas dan sesuai standar, maka dapat dipastikan kualitas masakan tidak rusak. Sehingga tidak akan menghilangkan kandungan gizi yang ada.

Apabila kandungan gizi pada bahan pangan hilang, dapat dikatakan kita hanya akan mengkonsumsi hampasnya. Bukannya menambah nutrisi, malah mendatangkan beberapa kandungan tidak baik bagi tubuh.

Sebagai salah satu peran utama dalam kualitas kelayakan pangan, temperatur masakan dan bahan pangan pun tentunya menjadi salah satu standar wajib dalam Good Manufacturing Practice (GMP) atau sistem yang digunakan untuk memastikan suatu produk konsisten pada standar yang ditentukan dengan tujuan meminimalisir resiko buruk pada produk. Yang dimana GMP sendiri merupakan acuan dasar dalam perizinan untuk membuka suatu usaha dalam bidang makanan.

 

Manfaat Mengukur Suhu Makanan

Adapun manfaat mengukur suhu makanan apabila disesuaikan dengan  uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa menjaga temperatur dengan cara mengukur dengan baik dan benar memiliki beberapa manfaat, seperti fakta menjaga kualitas masakan atupun bahan pangan, kemudian dapat mempertahankan kandungan gizi pada suatu bahan pangan.

Kemudian, pengukuran temperatur yang tepat dapat membuat bahan pangan atau masakan menjadi terkontrol sehingga dapat memperpanjang masa penyimpanan dengan kata lain bahan pangan dan masukan dapat bertahan lama.

Selain itu, mengukur suhu pangan dapat menghasilkan masakan yang sesuai dengan keinginan. Sebagai contoh saat hendak membuat suatu resep yang didapatkan dari internet atau media elektronik lain, biasanya selalu ada penganjuran untuk merebus, menggoreng ataupun memanggang suatu masakan pada temperatur tertentu agar dapat menghasilkan cita rasa masakan yang baik karena dimasak pada temperatur yang tepat.

Cara Mengukur Suhu Makanan

Cara mengukur yang tepat dilakukan sesuai dengan kebutuhan tentunya, misalkan jika Anda ingin mengukur temperatur bahan pangan semacam daging, maka perlu menggunakan termometer tusuk, namun jika semacam temperatur air mendidih untuk merebus suatu bahan pangan maka dapat menggunakan termometer celup, namun jika ingin lebih praktis dan mencakup hampir seluruh jenis bahan pangan tanpa alat uang berbeda-beda, maka dapat menggunakan termometer tembak.

Berbicara soal penyimpanan bahan pangan, setiap bahan pangan memiliki standar temperatur yang berbeda, baik itu basah atau kering, dalam keadaan yang mentah, setengah matang ataupun sudah matang. Berikut beberapa bahan pangan dengan temperatur penyimpanan yang sesuai standar.

Makanan basah

Segala bentuk jenis makanan yang tergolong pada bahan pangan segar harus disimpan pada tempat penyimpanan dengan temperatur 0°C hingga 15°C tergantung pada penggolongan jenis bahan pangan segar. Penyimpanan bahan pangan digolongkan menjadi temperatur penyimpanan sejuk (cooling) 10°C–15°C, temperatur penyimpanan dingin (chilling) 4°C–10°C, dan temperatur penyimpanan dingin sekali (freezing) yaitu pada temperatur 0°C–4°C.

– Makanan kering

Disimpan pada temperatur ruang dan harus simpan pada rak dengan ketinggian rak terbawah berada pada jarak 15 cm hingga 25 cm diatas lantai. Temperatur ruang atau gudang yang digunakan untuk menyimpan bahan pangan kering dan kaleng harus tetap terjaga pada temperatur kurang dari 22°C.

– Makanan matang

Masakan yang disajikan dalam keadaan panas harus tetap disimpan dalam temperatur diatas 60°C dan untuk masakan yang disajikan dalam keadaan dingin harus disimpan dalam temperatur dibawah 4°C

– Kopi

Disimpan pada temperatur ruang yang tidak terlalu panas tapi tidak terlalu dingin, tidak lembab dan tidak terkena sinar matahari.

– Ikan

disimpan pada temperatur -19°C hingga 0°C untuk penyimpanan 3 sampai lebih dari satu minggu.

– Telur

Disimpan pada temperatur -5°C sampai 7°C untuk penyimpanan 3 hari hingga satu minggu.

– Beras

Disimpan pada temperatur kamar yaitu 25°C

– Wortel

Disimpan untuk jangka waktu paling lama satu minggu pada temperatur 7°C sampai 10°C.

– Udang

Sama seperti ikan yaitu disimpan pada temperatur -19°C hingga 0°C untuk penyimpanan 3 sampai lebih dari satu minggu.

– Tomat

Penyimpanan maksimal yaitu selama 1 minggu dan harus disimpan pada temperatur 7°C hingga 10°.

– Sayuran

Jenis sayuran dengan waktu penyimpanan paling lama 1 minggu harus disimpan dengan temperatur 7°C sampai 10°C.

– Sirup

Minuman dengan waktu penyimpanan paling lama 1 minggu diaimpan pada temperatur 7°C sampai 10°C.

– Susu Segar

Disimpannpada temperatur -5°C sampai 7°C untuk penyimpanan 3 hari sampai satu minggu.

– Roti

Disimpan pada temperatur ruang 20°C untuk penyimpanan tidak lebih dari dua hari, namun jika untuk penyimpanan cukup lama maka harus di bekukan.

– Nugget

Karena tergolong pangan berprotein mudah rusak untuk jangka waktu sampai 24 jam harus disimpan pada temperatur <0°C sampai 4°C.

– Nasi

Nasi yang sudah tidak panas dapat langsung dimasukkan ke dalam lemari pendingin, kemudian baru dipanaskan saat akan dikonsumsi kembali, dengan syarat nasi tidak boleh dipanaskan lebih dari 1 kali.

– Mie

Apabila dalam bentuk kemasan kering maka harus disimpan dalam temperatur ruang, namun jika dalam keadaan basah maka harus disimpan pada lemari es.

– Minyak Goreng

Tergolong bahan pangan kering, dengan temperatur ruang sebagai penyimpanan terbaik.

– Madu

Disimpan pada suhu 7°C sampai 10°C.

– Keju

Jenis olahan susu disimpan pada temperatur -5°C hingga 7°C untuk penyimpanan selama 3 smpai 7 hari.

– Jus

Disimpan pada temperatur  paling maksimal 10°C dengan masa simpan tidak lebih dari 24 jam.

– Ice Cream

Disimpan pada suhu -15°C sebagai temperatur terbaik.

– Frozen Food

Disimpan pada temperatur <0°C hingga 4°C.

– Daging Ayam

Disimpan pada temperatur -19°C hingga 0°C untuk penyimpanan 3 sampai lebih dari satu minggu.

– Daging Sapi

Sama dengan daging ayam  dan hewani lainnya yaitu pada temperatur -19°C hingga 0°C untuk penyimpanan 3 sampai lebih dari satu minggu.

– Buah Pisang

Lebih baik disimpan pada temperatur ruang dengan tidak disimpan pada kantung plastik. Karena dapat membuat pisang menjadi lembab dan mudah busuk.

–  Bakso

Disimpan pada penyimpanan dingin sekali (freezing) dengan suhu <0°C– 4°C.

– Benih

Harus disimpan pada temperatur 2°C hingga 5°C.

– Buah-buahan

Temperatur kulkas paling baik untuk menyimpan buah adalah 2,7°C hingga 7°C.

Sedikit tambahan pengetahuan, selain bahan pangan diatas, berikut  beberapa barang yang umum dijumlai atau bahkan sering berada dirumah beserta temperatur penyimpanan yang baik.

– Vaksin

Mungkin Anda cukup penasaran dengan yang satu ini karena vaksin sangat mudah dijumpai saat imunisasi atau dalam rangkaian keperluan tertentu. Menurut Permenkes Nomor 12 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi,  jenis vaksin tidak boleh beku harus disimpan pada temperatur 2°C hingga 8°C, dan vaksin sensitif panas harus disimpan pada temperatur -15°C hingga 25°C.

Dan beberapa jenis vaksin lain seperti vaksin polio pada temperatur dibawah 0°C. Dimana terdapat lemari es dan freeze sebagai cold chain atau rantai dingin. Yang paling umum untuk penyimpanan vaksin tidak boleh terpapar sinar matahari langsung.

– Obat

Suhu penyimpanan obat sendiri dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu Penyimpanan suhu beku (-20° dan -10° C) yang umumnya digunakan untuk menyimpan vaksin, Penyimpanan suhu dingin (2° – 8° C), Penyimpanan suhu sejuk (8° – 15° C), dan Penyimpanan suhu kamar (15° – 30° C). Tergantung pada jenis obat-obatan tersebut.

– Vitamin C

Vitamin C paling baik disimpan pada suhu ruangan, yang jauh dari cahaya langsung dan tempat yang lembap, serta jangan dibekukan. Setiap merek dan jenis vitamin C memiliki standar penyimpanan yang berbeda, maka perlu memerhatikan instruksi penyimpanan pada kemasan produk atau lebih baik  tanyakan pada apoteker Anda.

– Insulin

Harus disimpan  dalam kulkas dengan suhu antara 2-8 derajat celsius. Tidak boleh beku atau dekat dengan kompartemen freezer, karena insulin yang sudah buka tidak bisa digunakan lagi meskipun sudah dicairkan.

– Darah

Darah utuh/lengkap dan keping darah disimpan dalam suhu antara 20°C dan 24°C dengan alat simpan yang disebut petelet inkubator darah. Sedangkan sel darah merah disimpan di suhu antara 2°C dan 6°C. Dan Plasma darah disimpan pada suhu 25°C.

– ASI

Lama simpan ASI tergantung pada temperatur tempat penyimpanannya, pada 25°C akan tahan selama 6 jam, pada kotak pendingin yang ditambah kantung es akan tahan hingga 24 jam, 4°C akan tahan hingga 5 hari, dan -18°C akan tahan hingga 6 bulan.

Perlu dilakukan pengecekan melalui cara mengukur suhu makanan atau barang lain untuk tetap mempertahankan kualitas dari bahan pangan ataupun barang tertentu. Penjagaan dan pemeriksaan berkala akan membuat bahan menjadi dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dengan tetap tidak mengurangi kualitas gizi maupun kandungan lain yang ada didalamnya.

Semoga informasi diatas dapat bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak ada lagi bahan yang terbuang meskipun baru menyimpan sebentar karena temperatur penyimpanan yang tidak tepat.